The Right One Part 2 End

The Right One Poster

 

Title                 : The Right One part 2 End

 

Author             : Bellsahn

 

Genre              : Romance, Married Life, NC-21

 

Casts               :

  • Ahn Heeyoung
  • Cho Kyuhyun
  • Kim Kibum
  • And Other cast

 

Disclaimer       : This story is Mine. No Plagirims No copying! Thanks.

 

HAPPY READING !! ^-^

 

.

 

.

 

.

 

‘Ternyata kau sepenting ini untukku’

==Cho Kyuhyun==

 

.

 

.

 

3 tahun berlalu.

 

Hari-hari sepi terus kujalani sejak 3 tahun lalu dan entah kapan semua ini akan berakhir. Kadang aku berpikir, sebenarnya untuk apa lagi aku hidup. Rasanya gairah hidupku hilang bersama dengan hilangnya gadis itu. hidupku terasa … hambar.

 

Seperti sup tanpa rasa atau apapun makanan yang terlihat lezat tapi tak ada rasanya sama sekali. itulah hidupku. Mungkin orang akan berpikir betapa enaknya hidupku. Berpikir betapa sempurnanya diriku. Mereka saja yang tak tahu akan aku. orang diluar sana hanya berpikir betapa sempurnanya aku yang memiliki segala hal. Tampan, cerdas, kehidupan yang baik, kaya raya, terkenal sebagai seorang pengusaha. Hidupku memang baik, tapi semua itu kosong.

 

Sebenarnya aku pernah menemukannya—gadisku, Ahn Heeyoung.

 

Tepat 2 bulan setelah kejadian malam itu—kejadiaan saat gadis itu pergi dari rumah, aku menemukan kabar tentangnya. Tak sia-sia aku menyewa mahal seseorang untuk mencari keberadaan gadisku. Aku bahagia awalnya menerima kabarnya bahwa dia ditemukan. Bahwa aku akan segera bertemu dengannya. Tapi setelah melihatnya, aku nyaris mati.

 

Ahn Heeyoung—gadis itu koma di sebuah rumah sakit. selama 2 bulan penuh gadis itu koma karena kecelakaan lalu lintas yang ia alami. Aku nyaris memaki semua dokter dirumah sakit itu karena tak mampu menyembuhkan gadisku. Sialan sekali, emosiku benar-benar tak bisa tertahankan.

 

Aku merasa seperti bajingan. Tapi kenyataan aku memang bajingan. Semua sifatku menunjukkan akan hal itu. aku menyesal? Tentu saja. Bunuh aku jika aku tak menyesal karena jika begitu aku memang tak pantas hidup.

 

Setiap hari aku akan berada dirumah sakit. menemani Heeyoung, berbicara apapun padanya yang tak sadar dengan diawali dan diakhiri kata maaf yang tulus dari hatiku.  Aku tak pernah ingin kehilangannya. Cukup sekali aku menyia-nyiakannya, tolong Tuhan, bisakah kau berikan aku satu kesempatan lagi. aku pun hanya pulang jika ada pekerjaan penting.

 

5 hari setelah aku berada di rumah sakit terus menerus, seseorang mendatangiku. Sialan, dia pria malam itu. pria di club itu yang dengan berani menyentuh gadisku. Pria yang membuatku marah dengan gadisku dan membuatnya pergi dari hidupku. Jujur, aku ingin membunuhnya seketika saat sedetik aku melihatnya. Sialan. Sialan.

 

Tapi tak lama aku tahu, pria itu sahabat gadisku. Sahabat dari kecil yang satu panti asuhan dengannya sebelum pria itu diadopsi oleh keluarga dokter terkenal di seoul. mereka bertemu kembali saat menginjak bangku kuliah. Saat itu aku dapat membayangkan betapa bahagianya gadisku. Bertemu dengan seseorang yang dia rindukan, terlepas dari hidupnya yang menikah terpaksa denganku. Dan beberapa kenyataan menyakitkan bagiku terungkap saat itu. pria itu seorang psikolog yang bekerja dirumah sakit itu—Kim Kibum. Dan ternyata juga psikolog yang menangani gadisku. Aku tak pernah tahu jika Heeyoung sedikit bermasalah dan memperlukan seorang psikolog. Oh betapa bodohnya aku sebagai seorang pria.

 

.

 

.

 

.

 

Flashback.

 

“Kau Mencintainya?” Kibum menatapku  datar. kami kini duduk di kantor Kibum. Berbicara secara pribadi tentang orang yang sama-sama berarti bagi kami. Kibum, dia seseorang yang tampak tenang. Tapi kau takkan bisa menutupi kebohonganmu didepannya karena dia dapat dengan mudah membaca ekspresi seseorang.

 

“Kau bercanda?tentu saja. Sangat. Aku tahu kau meragukanku terlepas dari kebiasaanku. Tapi kau bisa percaya jika dia satu-satunya wanita yang dapat menyentuh hatiku.”ujarku yakin. Ya, aku megatakannya dari dalam hatiku. Aku dapat melihat tatapannya yang menatapku sinis. menurutku, Kibum orang yang penyayang dan overprotective. Dan aku tahu dia orang yang overprotective pada gadisku. Membuatku iri dan cemburu.

 

“Kau tahu, aku membencimu. Sangat.” Kibum tak menutupi kebencian terhadapku sama sekali. tangannya tertaut diatas meja. Dan aku memilih menyandarkan tubuhku yang terasa remuk di kursi single itu. “Kau ingat jika dia jarang pulang setiap malam?”

 

“Tentu. Dia mendapat sihft pagi jam 9 sampai 2 siang dan malam pada jam 9 sampai jam 5 pagi.”

 

“dan kau percaya?!”

 

Aku tersentak. Maksudnya itu tak benar?

 

“Dia tak pernah mendapat sihft malam” ujar Kibum diikuti seringaiannya yang muncul. Sial pria didepannya ini menakutkan. Wajah datarnya sangat mirip dengan Heeyoung. Apa gadis itu belajar darinya? Aku mengeraskan rahangku. Sebenarnya apa arti diriku dalam hidupnya? “kau tahu apa yang dilakukannya setiap malam? ah bukankah kau pernah melihatnya.” Kibum menaikkan sebelah alisnya.

 

“Sebenarnya apa maksudmu?” aku hampir saja membentaknya. Cho Kyuhyun tenanglah, kau butuh tahu tentang gadismu dari pria didepanmu ini.

 

“Dia mabuk hingga tak sadarkan diri. Setiap malam.”

 

Skak mat!

 

Rasanya duniaku perlahan runtuh. Apa maksudnya mabuk hingga tak sadarkan diri? Dan lagi, setiap malam?

 

“Kau tahu mengapa?” ujar Kibum. Aku dapat melihat pancaran sakit dari matanya. “itu karenamu. Kau membuatnya seperti itu. dia….. Heeyoung hanya ingin melupakan sejenak tentang hidupnya.  dan menghilangkan kesadarannya adalah cara yang dipilihnya.”

 

“Apa—gadis itu… apa yang dia lakukan?” tanyaku tak percaya. gadis yang berada pada dunia kesehatan kenapa justru menyakiti dirinya? Minum setiap malam?Cho apa yang kau lakukan menjadi suaminya selama ini?

 

“Kau bodoh! Kau hanya peduli dirimu. Kau tak pernah mau tahu apa yang dia rasakan. Kau hanya peduli pada hidupmu. Kau tak peduli dengan hidupnya, kau mengahancurkannya. Seharusnya kau juga melihat dari sudut pandangnya. Dan kau si Brengsek hanya peduli pada kenikmatanmu tanpa peduli bagaimana istrimu hidup!” maki Kibum.

 

Ucapannya serasa menamparku ribuan kali. Sakit dan… tak tertahankan.

 

“Ahn Heeyoung mengidap sindrom.”nada suara kibum menjadi pelan. “Hyperthymestic syndrome” tatapan kibum berubah sayu.

 

“Apa? Gadis itu sakit apa?” tanyaku cepat. Gadis itu selama ini sakit? aku bahkan tak peduli dengan ekspresiku sekarang. aku panik.

 

“Kau memang bodoh. Itu bukan penyakit. Lebih kearah kemampuan yang unik. Sangat menguntungkan dan juga sangat menyakitkan.” Kibum berhenti dan menatapku dengan pandangan menerawang.

 

“berapa banyak kau menyakitinya selama ini?” tanya Kibum padaku. Aku terdiam. Bodoh. Aku bahkan tak dapat menghitung berapa banyak aku menyakitinya. Kadang aku sendiri tak sadar, karena gadis itu tampak tenang-tenang saja.

 

“Apapun yang kau lihat, kau dengar, dan kau rasakan, takkan pernah bisa kau lupakan—itu adalah Hyperthymestic syndrome. Sindrom mengingat superior. Senang, sakit, itu semua takkan pernah bisa dia lupakan. Setiap hari Heeyoung selalu dapat mengingat dengan detail apapun yang terjadi di hidupnya seolah-olah dia sedang mengalaminya. Tak pernahkah kau bertanya, kenapa dia bisa lulus dengan nilai terbaik menjadi apoteker diusia 19 tahun? Itu karena dia bisa mengingat apapun dengan mudah tanpa perlu mengulang pelajaran. Hanya membaca sekilas dan dia akan ingat.”

 

“kau menanamkan kesakitan setiap hari padanya. Aku tahu apa yang kau lakukan padanya. Setiap malam dia mabuk hanya ingin melupakan rasa sakitnya barang sejenak. Kesakitan itu terasa berkali-kali lipat lebih sakit dari manusia normal karena rasa sakitnya akan menumpuk setiap hari dan terasa sangat jelas dan tajam di ingatannya. Tanpa sadar kau mengahancurkannya setiap detik.”

 

“kau takkan pernah bisa menghilangkan rasa sakit itu. jika punya kesempatan mungkin kau dapat menguburnya dengan kenangan baru. Atau … mungkin juga tidak karena semuanya takkan hilang……. kecuali dia….. mati.”

 

Flashback end

 

.

 

.

 

.

 

Saat itu, aku hendak mengambil pakaian di rumah untuk dibawa ke rumah sakit. entah kenapa aku bisa tertidur di rumah malam itu. dan saat paginya kabar buruk kembali menghantamku. Sialan. Aku ingin mati saja sungguh. Pernahkah kau mencintai seseorang hingga tergila-gila? ya. aku begitu. dan parahnya aku baru sadar setelah dia pergi. Brengsek.

 

Saat itu tepat 27 hari setelah aku menemukan Heeyoung. Aku tak tahu, haruskah aku bunuh diri atau apa. Aku tahu aku berlebihan, hanya saja aku terlalu mencintainya.

 

Rumah sakit itu mengalami kebakaran semalam—saat aku tidur.

 

Aku ingin menangis melihat rumah sakit itu yang hampir seluruhnya hangus. Aku berlari kemana pun untuk mendapatkan informasi. Bagaimana keadaan gadisku? Bagaimana Ahn Heeyoung? Dia selamat bukan? tapi aku sedikit pesimis. Gadis itu koma dan dalam keadaan genting seperti itu, akankah ada yang sadar dengan keadaannya. Dan kenapa semalam aku bisa tertidur dirumah?! Itu yang kusesalkan. Apakah Tuhan benar-benar marah padaku hingga tak menyatukan kami kembali.

 

Dan sekarang…………..

 

3 tahun berlalu sejak malam itu.

 

Aku belum menemukannya lagi.

 

Bahkan aku tak yakin dia masih hidup. Saat kebakaran itu beberapa mayat tak dapat dikenali. Aku takut jika salah satu dari mereka itu Heeyoung. Aku tak tahu lagi harus bagaimana.

 

3 tahun ini hidupku semakin kosong. Kibum yang notabena psikolog Heeyoung kini menjadi psikolog-ku—Juga. Dia membantuku untuk menghilangkan penyakit burukku tentang sex, mengurangi semua kebiasaan burukku. Dan menenangkanku akan stress dan frustasi yang melanda. Tapi aku tak pernah bisa berhenti minum wine, itu sedikit mengalihkanku dari sex. Dan aku cukup bersyukur.

 

Menurut orang aku berubah menjadi sangat dingin dan jarang bicara. Aku rasa memang begitu. aku nyaman dengan ini. aku tak ingin dekat dengan siapapun saat ini, mungkin sampai esok.

 

Dulu pernah beberapa minggu setelah kebakaran itu, aku Colaps di meja kantorku. Sekertarisku yang menemukanku histeris dan 1 kantor heboh karena itu. mereka kawatir. Sebagian memang mengkhawatirkanku. Sebagian lagi khawatir akan nasib perusahaan jika aku tak ada.

 

Dan malam ini ulang tahun ke-10 perusahaan. Perusahaan yang aku bangun bersama sang kakak dari nol. Sekarang perusahaan ini menjadi sangat besar. Perusahaan ini satu-satunya yang mengalihkanku dari rasa rindu

 

.

 

.

 

.

 

Aku terus melangkah sesekali berhenti dan menyapa para kolega yang sudah mau datang ke pesta ini. aku tak terlalu banyak bicara, hanya menyapa secukupnya sebagai tuan rumah acara ini. jujur, aku tidak nyaman dengan pestaku sendiri. aku tak nyaman dengan keramaian ini.

 

Aku pun memilih memutari ruang besar pesta ini dan mencari tempat yang sekiranya nyaman bagiku. Tak terlalu banyak orang dan terdapat disudut. Dan aku menemukannya beberapa menit kemudian, tepat disamping tangga putar bercat emas silver disana. Disana cukup sepi dan sedikit tertutupi oleh bayangan tangga sehingga sedikit lebih gelap dari sudut lainnya. Aku bersyukur dan memilih menghampiri sofa yang memang ada disana.

 

Sesekali langkahku tersendat dan kembali menyapa beberapa kolega. Tanganku terangkat dan menarik ujung jas merah bata yang kugunakan—merapikannya. Dari mataku sendiri aku dapat melihat banyak mata yang memandangku secara diam-diam maupun terang-terangan. Aku ‘nyaris’ tidak peduli jika pandangan itu tak membuatku risih.

 

Aku duduk di sofa hitam kulit itu. duduk diujung satunya dan di ujung lainnya, disana sudah ada seorang wanita duduk dengan gaun baby blue melekat ditubuhnya yang ramping. Aku tak terlalu memperhatikannya hingga tangan wanita itu tiba-tiba menempel di pipi kananku. Aku tersentak dan menoleh dengan tatapan tajam.

 

Matanya bulat dengan bola mata yang jernih. Bibirnya penuh dibagian bawah dan tubuhnya menggoda—sangat cantik. Tapi aku tak peduli. Kurasa aku memang tak bisa jatuh cinta lagi kepada wanita lain selain istriku. Wanita itu menggerakkan tangannya mengelus wajahku lembut, sangat. Aku menatapnya hingga kembali tersentak. Meski tubuh dan wajahnya tak membuatku tertarik, tapi matanya menarikku hingga pada titik terdalam. Membuatku jatuh kembali dimasa dimana aku menjadi orang brengsek yang tertarik dengan lawan jenis selain istriku. Sialan.

 

Tak ada yang berbicara. Hanya saling menatap hingga wanita itu menarik tangannya dan tersenyum tipis padaku. Matanya sangat sendu bagiku. Entahlah, aku merasakan sakit melihat mata itu.

 

Wanita itu tiba-tiba berdiri membuatku kalut dalam hati. Dia mau pergi? seakan diriku tak rela melepaskannya padahal kenal saja tidak. langkah kaki wanita itu justru berhenti tepat didepanku. Aku mendongak dan kembali menatap mata sendu jernih yang menghisapku itu.

 

Aku tak sadar apa yang terjadi hingga wanita itu menunduk dan menciumku tepat disudut bibir. Hanya menempel tapi membawa sensasi yang lebih dari ciuman sedalam apapun yang pernah kulakukan. Ciuman penuh makna yang tak ku ketahui maknanya. Apa maksud wanita ini? beberapa detik hingga ciuman itu terlepas. Aku merasa blank seperti orang idiot.

 

“Cho Kyuhyun.” bisiknya sangat pelan.

 

Aku terus terpaku menatap punggung wanita itu yang berjalan menghilang di balik kerumunan. Ada apa denganku? Aku nyaris mati merasakan ciuman wanita itu yang tak lebih dari ciuman seorang anak kecil—hanya menempel. Kau gila Cho Kyuhyun!

 

Jangan bilang kau jatuh cinta lagi? semudah itu kau melupakan istrimu? Hanya seorang wanita yang kau lihat beberapa menit?! Brengsek!

 

Aku memijit pelipisku. Rasanya kepalaku sangat sakit.

 

.

 

.

 

.

 

Saat aku naik keatas podium untuk memberikan sambutan sebagai tuan rumah, aku melihatnya lagi. wanita bergaun baby blue yang tak kuketahui namanya. Dia berdiri agak dibelakang disudut ruang dan tak sendiri. sialan pinggangnya dipeluk oleh seorang pria yang kuketahui sebagai kolegaku juga. Shim Changmin. Jadi gadis itu siapanya? Rasanya kepalaku ingin meledak. Panas sekali melihat wanita itu dipeluk pria lain. Sepanas saat….. Ahn Heeyoung di sentuh pria lain juga. Double Shit.

 

Dia membuatku tertarik dan jatuh sekaligus dalam satu waktu. Dan aku….. apa ada yang salah denganku?

 

.

 

.

 

.

 

Aku merasa nyaris gila. kepalaku rasanya mau pecah. 2 minggu sejak pesta itu aku tak melihatnya lagi—wanita bergaun baby blue. Kepalaku pun terbagi jadi 2. Dilain sisi aku masih selalu memikirkan Heeyoung. Disisi lainnya aku justru memikir wanita baby blue itu. kenapa kebrengsekanku kembali lagi?

 

“Kau yakin kau tertarik padanya?” tanya seseorang yang berdiri didepan lemari pendinginku, mengacak dan menghabiskan persediaan makanku saja.

 

“Entahlah.” Jawabku yang memang bingung.

 

“Kau masih memikirkan Heeyoung. Kau masih tak bisa melupakannya tapi kau tertarik dengan wanita lain. Mungkin saja kau tertarik karena wanita itu menciummu.” Ucapnya dengan ke-sok tahuan yang menggunung. Dan jangan lupa wajah datarnya yang menyebalkan.

 

“Kim Kibum, aku tak tahu. Bisahkah kau diam, aku pusing.”

 

“Heem” gumam kibum dan sibuk mengunyah makanan didalam mulutnya. Aku hanya mendungus. Sejak kami mulai akrab, kibum memang tak pernah sungkan ke Apartmentku—dan Heeyoung. Bahkan dia tahu password-nya. Aku tak memberitahunya, dia sendiri yang tahu. Dan saat ku tanyakan dia hanya bilang, ‘ aku hanya asal tebak’. Sialan memang dia. “oh aku punya suatu berita untukmu.” Lanjutnya.

 

“Apa?” tanyaku acuh. Kibum kadang memang menyebalkan. Oh,, bagaimana Heeyoung tahan berteman dengannya selama ini? meski kuakui dia teman yang perhatian.

 

Kibum berjalan menghampiriku dengan makanan di tangannya. Dia duduk di sofa single di depanku.

 

“Semalam, tepat tengah malam ada yang menelponku.” Ujarnya sambil makan.

 

Aku mengernyit. “lalu?” tanyaku tak peduli. Kenapa dia menceritakan tentang itu coba.

 

“orang diseberang sana hanya bilang ‘aku merindukanmu’ hanya itu. aku bahkan tak tahu siapa yang menelpon. Tapi meski dia tak menyebutkan nama, aku tahu itu siapa. Ahn Heeyoung. Itu suara Young.”

 

“A-apa?” tanyaku nyaris tanpa suara saking shock-nya. Dia barusan bilang apa? Aku rasa pendengaranku bermasalah.

 

“Heeyoung.” Jawab kibum singkat dengan wajah datar menyebalkannya. “Kurasa dia masih hidup. Mungkin dia tak ingin bertemu denganmu lagi. kau kan brengsek. Wajar saja. Aku juga akan begitu jika menjadi dia. Kau pria sialan brengsek idiot menjijikkan yang disentuh banyak jalang. Bagaimana bisa Young rela disentuh olehmu.”

 

Jika tak mengingat bagaimana dia membantuku setelah ditinggal Heeyoung, sudah ku pukul hingga pingsan dia. Hey, dia secara frontal menghinaku didepan mukaku! Aku tahu semua itu benar, tapi bisakah dia tak berkata seterus terang itu. sudah kubilang kan dia itu menyebalkan. Pantas dia tak memiliki kekasih hingga sekarang, memang siapa yang mau dengan pria menyebalkan sepertinya. meski wajahnya tergolong tampan.

 

“Berikan nomornya padaku!” perintahku cepat. Lidahku saja nyaris berbelit saat mengatakannya. Rasanya ada rasa manis menelusup dihatiku. Apa aku bisa bertemu dengannya lagi?

 

“Percuma saja. Nomorya tidak aktif  lagi.”

 

“Sial.” Umpatku. Aku merogoh ponsel di saku jeans-ku dan menelpon seseorang.

 

“Hyuk Jae, lacak seseorang untukku. Gadis bergaun baby blue yang bersama Shim Changmin semalam. Aku ingin kau mencari dengan detil tentangnya.” Ucapku tegas kepada orag kepercayaanku itu.

 

“Baiklah.”

 

“Okey. Kurasa dia gadisnya si Changmin itu.”

 

“Baiklah Tuan. Aku akan memberikan kabar jika sudah berhasil.” Tuuutt… sambungan langsung di putus oleh Kyuhyun.

 

“Kenapa kau malah mencari tahu tentangnya. Kukira kau akan mencari Heeyoung.” Jawab Kibum dengan nada naik. Dia marah.

 

“Entahlah. Aku hanya merasa perlu mencari tahu tentangnya. Aku merasa aneh saja dekat dengannya. Hanya mengikuti naluriku. Lagipula bagaimana aku harus mecari Heeyoung? Satahun aku mencarinya sama sekali tidak ada hasil! Dan sekali dia menelponmu, nomornya malah tidak aktif. Kenapa dia tak menelponku juga?!” Aku memberi alasan. Sebenarnya aku juga tidak mengerti dengan diriku. Bagaimana bisa gadis lain terselip di kepalaku saat aku sedang membicarakan istriku dengan kibum.

 

Kurasa kebrengsekanku kumat…..

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Sebulan sudah sejak kejadian itu.

 

Hyuk jae, mengatakan bahwa gadis bergaun baby blue itu bernama Lian Watson. Blesteran korea-America. Anak bungsu keluarga Watson pemegang saham terbesar kedua di Shim Group setelah Changmin. Dan parahnya dia juga tunangan Shim Changmin!

 

Goddamn!

 

Gilanya disini.

 

Dengan mudahnya aku membuat sebuah proyek yang akan melibatkan Shim Group yang bergerak di bidang properti. Oh ya, aku yang bergerak di bidang Teknologi dan real estate dapat dengan mudah bekerja sama dengan Changmin untuk kesekian kalinya. Niat gilaku sebenarnya hanya untuk dapat melihat gadis itu! hanya berpikir, barangkali saja jika aku berkunjung ke Shim Group dia ada disana. Hei, Changmin tunangannya.

 

Aku menekan tombol lift dan beberapa menit kemudian lift terbuka. Beberapa orang keluar dari lift meninggalkanku yang masuk ke lift sendirian. Dalam lift aku hanya menerawang jika hari ini aku bisa bertemu dengan gadis itu. dadaku saja bergemuruh. Tapi di sudut hatiku paling dalam masih ada semua tentang Heeyoung. Aku merasa semakin brengsek saja. Bagaimana bisa aku menduakan istriku?

 

Lift terbuka dilantai teratas—lantai 25. Aku berjalan menuju ruangan CEO disini. hari ini aku hendak mengunjungi Changmin karena memang ada sesuatu yang ingin aku bicarakan soal kerja sama kami kedepannya. Ya sekalian berharap juga bertemu dengan gadis baby blue itu. siapa tahu sajakan.

 

Drttt….Drtt….

 

Aku merogoh saku jasku dan melihat nontifikasi pesan di ponselku.

 

Lee hyuk Jae

 

Tuan Cho, aku punya berita untukmu.

Kuharap kau bisa menemuiku secepatnya.

 

Aku memasukkan kembali ponsel ke dalam jas dan kembali berjalan hingga berhenti didepan meja sekertaris yang kosong. Aku hanya mengangkat bahu dan memilih langsung masuk.

 

Sialan lagi untuk beribu kali dan demi miliar juta uang yang kumiliki.

 

Aku menggeram kesal saat membuka pintu CEO itu. yah, aku melihat gadis baby blue itu disana. Benar-benar melihatnya dengan mata melotot dan marah. Sungguh, sebagai pemain bagaimana bisa aku sangat jijik dengan pemandangan itu. dan ku akui ini pertama kalinya aku merasa marah dan cemburu sebesar ini.

 

Disana, Lian duduk diatas meja kerja Shim Changmin, tepat menghadap changmin yang duduk di kursi kebesarannya. Mereka saling berciuman intens dengan badan Lian yang membungkuk untuk menggapai bibir Changmin. Sialan sekali tangan Changmin yang bahkan berani meremas dada gadis itu. brengsek!

 

Aku menutup pintu itu kembali dengan keras. Tak peduli jika kedua orang itu kaget karena saking kerasnya aku membanting pintu itu. jika kuteruskan melihat, bisa-bisa aku menghajar Changmin hingga masuk UGD. Parahnya mati.

 

Aku berjalan cepat keluar gedung Shim Group. Rasanya kepalaku ingin pecah dan dadaku berdenyut sakit.

 

Tidak. rasanya sangat sakit. bisakah ini berhenti. Aku merasa seperti orang bodoh yang merasa sakit hanya karena melihat wanita yang tidak kukenal becumbu dengan pria lain.

 

Aku kembali merogoh ponselku dan menekan angka 3—panggilan cepat untuk Hyuk Jae.

 

“Datang ke kantorku sekarang!”

 

Tutttttt—

 

.

 

.

 

.

 

Aku ingin membanting seluruh barang yang ada diruanganku rasanya. Belum sampai semenit yang lalu Hyuk Jae keluar dari ruanganku. Bahkan kalimat pertama Hyuk Jae tadi membuatku mematung. Aku sangat senang pertamanya, tapi selanjutnya, aku ingin sekali membanting barang-barang diruanganku ini.

 

“Ahn Heeyoung masih hidup tuan Cho.” Ucap Hyuk Jae mengawali percakapan itu.

 

Aku hanya bisa menganga mendengar ucapan barusan. Kumpulan Kupu-kupu secara mendadak pecah di rongga dadaku. Rasa bahagia menelusup dalam setiap peredaran darahku.

 

“Lalu dimana dia?” tanyaku tidak sabaran.

 

“Dia seperti tak ingin lagi bertemu denganmu tuan Cho, maaf.”saat ucapan itu selesai, aku ingin sekali mencekik Lee Hyuk Jae.

 

“Apa Maksudmu?”

 

“Selama ini, dia menutupi masa lalunya dari orang-orang. Aku sempat kesulitan mencarinya. Dia bahkan sampai merubah wajahnya, ah maaf bukan sengaja merubah.” Lee Hyuk jae tampak terdiam sebentar dan membasahi bibirnya. aku mengernyit tak mengerti, berharap Lee Hyuk Jae cepat melanjutkan kalimatnya. “Anda ingat kebakaran rumah sakit dulu Tuan Cho. Ternyata malam itu Nona Heeyoung sadar, dan dia sempat melarikan diri dari rumah sakit yang terbakar hebat itu. tapi sayang tubuhnya masih lemah hingga beberapa bagian tubuhnya terbakar. Dan saya tidak tahu lagi apa yang terjadi. Tapi saat saya mencari tentang Lian Watson, saya menemukan hal yang ganjil. Dia merupakan anak angkat keluarga watson, menggantikan putri mereka yang meninggal seminggu sebelum kebakaran itu terjadi. Dan saat saya mencari lebih dalam, ada hal yang aneh. Ada operasi plastik sehari setelah kebakaran itu atas nama Lian Watson. Saat itu juga saya mencocokkan foto mereka—Lian sebelum operasi dan Heeyoung—dan itu mirip. yah saya juga sempat melakukan tes DNA dengan mengambil sampel nona Lian dan anda ingat seminggu lalu saya juga meminta sikap gigi yang pernah nona Heeyoung pakai. Dan hasilnya keluar hari ini, mereka 99% cocok. Mereka orang yang sama. Lian Watson dan Ahn Heeyoung orang yang sama.”

 

Kepalaku ingin pecah rasanya saat mengetahui kenyataan itu. disatu sisi aku sangat bahagia dan disisi lain aku sangat marah. Segala pertanyaan berputar dikepalaku.

 

Kenapa dia tak menemuiku dan bilang bahwa dia Heeyoung?

 

Kenapa dia besikap tak mengenalku?

 

Apa sebegitu bencikah dia denganku?

 

Dan kenapa dia bertunangan dengan Shim Changmin?! Hey, kau masih istriku meski semua orang tak tahu!

 

Dan yang paling penting, pernahkah kau mencintaiku?

 

Aku ingin meledak!

 

.

 

.

 

.

 

Aku merasa bukan menjadi diriku hari ini.

 

Jangan salahkan aku. aku melakukan ini semua karena gadisku, istriku, orang yang kucintai. Tindakannya yang bercumbu dengan Changmin tempo hari selalu berputar dalam kepalaku dan menyulut amarahku. Bahkan aku tak berani membayangkan ataupun bertanya pada diriku sendiri, apakah Heeyoung sudah melakukan hal ‘itu’ dengan Changmin?

 

Aku seperti orang gila saat mengetahui bahwa Lian dan Heeyoung orang yang sama. Aku jatuh cinta pada orang yang sama.

 

Malam semakin pekat dengan awan mendung yang menghiasi langit. bulan pun tak nampak. Hhh.. benar-benar malam yang gelap. Aku berdiri disamping sebuah pilar di basment sebuah gedung pameran lukisan. Aku tahu hari ini Heeyoung akan menggelar pameran pertamanya di Korea setelah sebelumnya mengadakannya di China. Aku merasa menjadi pria bodoh, ternyata selama ini aku tak benar-benar tahu gadisku. Bahkan banyak yang tak kutahui. Selain profesinya dulu, aku tak tahu jika dia bisa melukis seindah itu. aku sempat masuk sebentar sebelum keluar lagi tadi dan membeli beberapa lukisan yang sangat kusukai karena menggambarkan dirinya.

 

Sweater hitam lengan panjang dan jeans hitam serta sepatu kets hitam membalut tubuh tegap tinggiku. Aku sesekali melihat arloji di tangan kiriku dan melihat kearah pintu basment. Jam 11.30 malam dan gadis itu belum keluar, padahal pameran 2 jam lalu sudah di tutup.

 

17 menit kemudian aku melihatnya. Gadis cantik dengan sweater musim dingin kebesarannya dan celana jeans putih. Dia berjalan dengan santai kearah mobil yang tepat berada dekat dengan pilar yang menjadi tempat bersembunyiku. Aku menyeringai.

 

Akan kubuat kau menjadi milikku lagi sayang.

 

Yah, milikku.

 

Dan kutaruh sapu tangan dengan obat bius itu hingga menutupi mulut dan hidungnya. dan beberapa detik kemudian tubuh itu jatuh dalam pelukan.

 

Aku kembali menyeringai. Kau akan menjadi milikku sayang. Lagi.

 

.

 

.

 

.

 

Tali tambang itu melilit di sepanjang pergelangan tangan dengan kuat.ujung satunya teringat dengan kuat di pinggiran ranjang besar mewah di kamar itu. kaki itu sesekali bergerak gelisah menandakan sang pemilik yang akan sadar dari kegelapannya.

 

Seseorang duduk disudut diatas sofa hitam dengan pandangan sayu namun tajam kearah sosok yang terikat di kasur. Yah, itu aku—Cho Kyuhyun.

 

Siapa yang kuikat? Tentu saja, gadisku—Ahn Heeyoung.

 

Aku melihat gadisku yang mulai bergerak menandakan kesadarannya mulai kembali. Ahh aku tak sabar menunggunya sadar. Malam ini akan kupastikan aku akan menjadi sangat liar untukmu sayang. Berapa lama aku tak menyentuhmu? 1 tahun huh? Kau tahu betapa aku meridukanmu. Meski wajahmu berbeda, tapi tubuhmu sama. Dan aku sangat mencintaimu.

 

“Ughh.”

 

Aku masih diam diposisiku melihatnya yang mulai perlahan-lahan membuka mata. Mata hitam pekat yang selalu menghipnotisku.

 

Dari posisiku, aku dapat melihatnya yang panik karena terikat. Dan dia mulai menjerit minta tolong atau apapun agar di lepaskan. Hhh aku tak akan melepaskanmu sayang.

 

“hmm, kau tampak sangat menggoda.” Ucapku mulai berjalan menghampirinya. Dia tampak kaget saat melihatku.

 

Aku duduk disisi ranjang di kamar kami—yah ini Apartment kami.

 

Aku mengelus kepalanya lembut secara tersenyum sendu. Benar, aku sangat merindukannya. Aku kini perlahan menunduk dan mengecup dahi itu, turun dan mengecup kedua mata berbola hitam legam yang selalu kusuka, bibirku terus berjalan di wajahnya. Mengecup kedua pipi yang sangat menggemaskan bagiku. Terus turun dan mengecup sepanjang garis rahangnya yang melekuk lembut. Aku sedikit menjauhkan wajahku dan menatap mata indahnya yang kini menatapku tajam. Oh, aku tak suka tatapan itu.

 

“Aku merindukanmu.” Ujarku lirih. Dapat kulihat ekspresinya yang sedikit berubah, tapi tak lama langsung berubah datar dengan tatapan matanya yang tajam.

 

“Apa yang kaulakukan?” tanyanya dingin. Apa yang kulakukan? Ah pertanyaan bagus.

 

“Lian Watson ? meski wajah dan namamu berbeda, kau tetap Ahn Heeyoung bagiku….”

 

“Ahn Heeyoung yang bodoh.” Sergah Heeyoung cepat. Tatapan matanya semakin menusuk menatapku tapi juga terselip kesedihan disana. Apa? apa aku sebegitu buruknya baginya? Bisakah aku menebus kesalahanku yang lalu. Aku ingin bersamanya kembali dengan cara yang berbeda. Dengan hidup yang berbeda. Bisakah?

 

“Bodoh? Akulah yang bodoh. Aku mencintaimu. Sangat. Tapi aku tak sadar jika caraku mencintaimu salah. Seharusnya aku yang bodoh bukan, young sayang.”

 

Tanpa membuang waktu aku menerjang Heeyoung yang terikat di ranjang kami—dulu. Aku dengan nafsu yang mulai naik berada di atasnya. Menginginkannya untuk diriku sendiri, tanpa ingin orang lain memilikinya meski itu seujung kuku. Aku egois, aku rakus hanya untuknya. Dia milikku, dan akan selalu menjadi milikku.

 

Aku dapat melihat tatapan ngerinya padaku. Aku tak peduli seberapa mengerikannya aku sekarang. aku gila hanya karenanya. Aku berlebihan bukan? tapi ini perasaaanku sesungguhnya. Aku benar-beanr sudah jatuh.

 

Aku menatapnya senduh dengan nafsu yang tertahan. Tanganku turun mengelus rambut diujung kepalanya, menuruni sepanjang bentuk tubuhnya hingga mencapai lengannya yang lembut dan sedikit bergetar?hhhh…. secuil rasa bersalah menelusup, hei aku tak sejahat itu juga, tapi ini cara satu-satunya—yang pasti—untuk menjadikannya milikku.

 

Wajahku menunduk. melihatnya dengan teliti. Oohh wajanya memang sedikit berbeda, tapi mata, bibir, dan beberapa bagian lainnya tetap sama. Itu milik Heeyoung dulu. Aku mengecup bibirnya—hanya menempel. Lalu sedikit menjauhkan wajahku untuk melihat reaksinya. Mata gadisku menutup, beberapa detik kemudian terbuka menatapku penuh luka. Rasanya aku sendiri bisa merasakan luka itu. ternyata sangat sakit. aku memang bodoh tak pernah merasakannya selama ia bersamaku.  Aku menutup mataku saat kurasakan satu tetes air mata jatuh dan mengecup bibir lembut itu sekali lagi. menempelkannya lebih lama, menyerap rasa yang sangat lama tak terjamah.

 

“Aku mencintaimu. Maaf aku tak pernah mengatakannya.” Ucapku.

 

Dan malam ini, aku akan membuatnya menjadi milikku. Aku akan berusaha membuatnya terikat padaku.

 

.

 

.

 

.

 

Desahan tertahannya membuatku gila. malam-malam yang sangat kurindukan akhirnya kulalui lagi dan ini sudah hari ke- 3 aku mengurungnya di kamar kami. Hampir setiap malam aku melakukannya. Satu tujuanku, membuatnya hamil dan terikat padaku. Dulu, aku tahu dia menggunakan kontrasepsi. Tapi sekarang, aku pastikan jerih payahku berbuah dalam rahimnya.

 

Maafkan aku sayang,

 

Aku kembali menusuk penisku kedalam lubangnya. Berkali-kali, menghentak dengan nikmat didalam sana. Kenikmatan ini sungguh membuatku ketagihan, apalagi dengannya. Wajahku memanas dan memerah menampung gairah yang siap meledak.

 

“Kyuhh..” desahnya lagi. aku menggeram nikmat menjawab desahannya. Menusuknya berkali-kali membuat tubuhnya berguncang. Dapat kurasakan vaginanya menjepit kejantananku dengan erat. Oh shit….  rasanya aku tak bisa menahannya lagi.

 

Dan aku….

 

Ah aku keluar didalamnya dengan banyak. Hangat cairanku bersatu dengan cairannya yang terasa hangat juga melapisi penisku. Aku kembali menusuknya karena aku tahu dia belum keluar. 5 menit, akhirnya dia juga keluar. hhh…. aku tak pernah bisa menahan diriku. Membuatku lebih sering keluar lebih dulu dalam dirinya selama 3 hari ini. sial. Salahkan saja dia yang terlalu nikmat.

 

Aku tak berniat melepaskan penyatuan kami. Aku hanya menopang badanku dengan kedua lenganku dan menatapnya dengan tatapan lembut. Sesekali kukecupi wajah dan lehernya yang sudah banyak tanda kiss mark. Indah. Aku tak pernah bosan dengan tubuhnya, selalu ketagihan meski dulu aku sangat brengsek.

 

“Aku mencintaimu.” Ucapku lirih dan mengecup hampir seluruh sudut wajahnya. Ughhh ini tak cukup.

 

Tanpa perlu repot-repot meminta ijin, aku kembali mengerakkan tubuhku dengan semangat. Merasakan kembali dirinya yang mencengkramku dengan nikmat. Aku menciumnya dengan lembut. Menyalurkan semua rasa cintaku untuknya.

 

“aku membencimu.” Ucapnya ditengah percintaan kami dengan tatapan kosong.

 

.

 

.

 

.

 

Hari ke-empat aku mengurungnya.

 

Sialan. Brengsek.

 

Hari ini aku berada dirumah sakit dan melihat dengan mata kepalaku sendiri, gadis yang semalam baru saja bercinta denganku tergeletak di atas ranjang putih dingin dengan wewangian obat di ruangannya. Pergelangan tangannya terbelit kasa dengan apik. Jika saja dia tidak segera pingsan, dia kini pasti hanya tinggal nama. Heeyoung nyaris memutuskan nadinya. Dia pingsan sebelum benar-benar memutus nadinya sendiri.

 

Aku ingin menangis, sebegitu frustasikah dia hingga ingin bunuh diri? Apa aku sudah tak punya harapan lagi.

 

Mataku berkaca-kaca melihat keadaannya, terluka dan rasanya sakit sekali melihat gadisku terbaring disana. Pagi-pagi tadi aku menemukannya tergeletak di kamar mandi dengan linangan darah.

 

Air mata akhirnya tumpah saat seseorang meninjuku dengan kerasnya hingga aku tersungkur. Seseorang dengan badan tegap, tinggi, dan setelan kerjanya berdiri disebelah ranjang Heeyoung setelah berahasil memukulku berkali-kali hingga aku nyaris tak dapat bangkit. Dia tampak menahan marahnya, hei aku juga begitu. berani sekali ia menyentuh Heeyoung-ku!

 

Tiba-tiba dia mengangkat Heeyoung sambil membawa infus gadis itu. aku hanya meringis menahan sakit. sisi-sisi hatiku sedang bertengkar hebat disana. Haruskah aku menahannya atau….. melepaskannya? Jika bersamaku seperti ini terus, ia akan tetap mencoba bunuh diri. Aku… apa aku bisa memilikinya lagi?

 

Shim Changmin… apa kau bisa membahagiakannya?

 

Apa ini yang terbaik? Haruskah aku memulai semua hidupku dari awal dan melupakan beberapa tahun ini?atau jika tak sanggup…. haruskah aku bunuh diri?

 

Heeyoung-ah…

 

Terimakasih untuk semuanya. “Aku mencintaimu sayang.” Ucapku lirih. Yah, aku sudah tak bisa berpikir. Kurasa lebih baik aku tak memaksanya daripada tak melihatnya lagi.

 

.

 

.

 

.

 

Fin..

 

 

Hahahah…. udah end.

Gaje ya?

Maaf dech. Habis Cuma kepikiran ini sich.

Terima kasih juga untuk para reader yang udah mau baca ini cerita absurd dan tentunya untuk semua coment-nya. Thanks ya…

Dan thanks untuk adminya juga yang udah mau posting ini 😀

Love you dech.

Sekuel? ehm kalau banyak yang minat, nanti aku kasih sekuel hehehe.

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

6 thoughts on “The Right One Part 2 End

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s