Be My Baby Part 1

CMII_rKUcAALcEE

Author  : Bellsahn

 

Tittle     : Be My Baby part 1

 

Genre    : Romance, NC-17, Kekerasan

 

Length  : Chaptered

 

Casts     :
• Cho Kyuhyun
• Ahn Heeyoung
• And Other Casts

Disclaimer : This story is Mine. No Plagirims No copying! Thanks.

HAPPY READING^-^

..

..

==Part 1 : Start of Something New==

 

Shanghai, China 10p.m.

 

Plak!

 

“Kau! Kubilang jangan berani untuk coba-coba kabur lagi. aku sudah memberimu kesempatan dan kau melakukan kesalahan besar nona.”

 

Wanita itu berjalan menuju kesalah satu dinding yang tertempel sebuah rak dengan banyak benda yang tertata berantakan. Mengambil salah satu mainan kesukaannya dan segera kembali menghampiri wanita yang masih berlutut dilantai dingin semen itu.

 

Dan satu lagi bunyi penyiksaan terdengar diruangan itu.

 

Ctarr!

 

Ctarr!

 

“Ampun madam. Aku tak akan melakukannya lagi.” ya. mungkin memang wanita yang berlutut itu sudah terlalu trauma untuk berusaha kabur lagi. tubuhnya terasa hancur lebur. Hanya tersisa akal setengahnya dan matanya yang masih menatap seseorang yang dipanggilnya ‘madam’ dengan sayu dan mengiba minta diampuni.

 

“Kau kira aku bodoh? Ini sudah ke-3 kalinya kau berusaha kabur!”

 

Ctarr!

 

Sekali lagi suara cambuk itu memenuhi ruangan saat bertemu dengan tubuh ringkihnya. Gadis itu masih berlutut memohon ampun dan meringis merasakan perih yang tengah dilanda tubuhnya.

 

Tubuhnya terasa semakin sakit. wanita yang memukulnya itu berlutut tiba-tiba. Tangannya membuang begitu saja cambuk yang tadi dipegangnya dan sebagai gantinya, tiba-tiba sebuah tarikan keras pada helaian rambutnya menghampiri gadis korban penyiksaan itu. Terasa sakit dan kulit kepalanya terasa panas.

 

Gadis itu tak mengerti. Kenapa bisa hidupnya berubah menjadi seperti ini. menjadi budak seseorang disaat umurnya dulu 15 tahun. Sekarang umurnya 20 tahun. Sudah hampir 5 tahun penuh dia menjalani kehidupan seperti ini. kenapa jaman modern begini ada saja sistem perbudakan?

 

Dan yang paling konyol adalah, permainan yang hampir setiap malam dimainkannya. Bukan permainan mesum tapi ini lebih bahaya. Tapi bagi orang-orang yang menonton ini terlihat indah dan mengagumkan, serta menegangkan yang meyenangkan. Bagian mana sebenarnya yang layak untuk ditonton pada permainan nista itu? dia yang selalu menjadi pemain memang tak akan pernah mengerti itu. tapi, tak punyakah orang-orang itu sedikit saja rasa simpati?

 

Memuakkan.

 

“Kau ingin kumaafkan?”

 

Dengan cepat gadis itu mengangguk. ingin sekali dia memeluk sepasang kaki didepannya karena perasaan lega. Apa jadinya jika dia tak termaafkan.

 

“Mainlah malam ini. jika kau kalah, aku akan menjualmu pada rumah bordil.”

 

Shit! Rumah bordil? Dia tak akan ingin masuk kesana. Biarlah dia menjadi budak disini. tidak jika menjadi seorang pelacur. Dia masih punya harga diri untuk menjadi seorang pelacur dan digilir kesana kemari oleh pria hidung belang untuk dinikmati. Sudah cukup dia tersiksa disini, tidak lagi. tidak akan.

 

Dan jalan satu-satunya dia harus menang malam ini.yah, meski kenyataan tubuhnya terasa remuk dan tak mungkin bertahan begitu saja. Tapi dia tetap harus menang. Demi harga dirinya dan demi kehidupannya. Apa jadinya jika dia hidup menjadi pelacur? Menjadi budak sudah lebih dari mengerikan.

 

Dan pada malam ini juga. Akhirnya dia bermian. Tepat jam 12 malam—tengah malam, arena dibuka. Disinilah dia, disalah satu tempat tunggu disudut arena dengan beberapa orang disekitarnya. Madam Shen—begitulah orang-orang memanggilnya. Duduk dengan anteng ditempatnya sambil menatapnya tajam. Sepertinya wanita awal 40-an itu tak ingin dia kalah. Dan dia juga tak ingin kalah dan dijual di rumah bordil.

 

“Ini topengmu Lin.”

 

Lin—gadis itu mendongak menatap pria keturunan asli China itu dengan tatapan datar. Dia mengambil topeng yang disodorkan pria itu dan dengan gerakan perlahan mengenakannya. Topeng yang hanya berhasil menutupi mata dan hidungnya. Topeng hitam pekat dengan garisan abstrak abu-abu emas yang tak terlalu kentara.

 

Gadis itu mulai berdiri dan berjalan perlahan keluar dari ruang tunggu.

 

Suara sorakan mulai terdengar riuh saat dirinya mulai menampakkan diri diujung arena. Dia hanya berdiri terdiam dan perlahan mendongak menatap riuh orang-orang yang duduk diatas podium. Seperti lapangan sepak bola—tapi dalam versi mini. Dan dia berada di tengah-tengah orang-orang yang mengelilinginya.

 

Inilah kehidupan gelap orang-orang kaya yang angkuh. Menghabiskan uang mereka untuk berjudi tak jelas. Bukan judi biasa, tapi bagi mereka ini perjudian sekaligus tontonan yang bagus. orang-orang kaya yang tak akan peduli pada kehidupan masyarakat dibawahnya. Orang-orang kaya yang hanya akan memikirkan kesenangan mereka sendiri. dan kenapa orang kaya yang seperti itu sangat banyak? Disini dialah yang akan dijadikan taruhan. Dialah sang pemain. dialah yang akan menerima rasa sakit dari rasa senang sesaat yang orang-orang itu terima. Dialah milik seorang Madam Shen—wanita yang membelinya saat dia dijual oleh ayah tirinya. Dialah sang gadis penakluk permainan. Tapi akankah dia menang? Dengan tubuh seperti ini? bahkan kini dia dapat merasakan tubunya yang demam. Rasa sakit mulai menyerangnya perlahan. Seharian mendapatkan penyiksaan membuat tubuhnya down.

 

Grep. Sebuah tarikan pada rambutnya membuat kulit kepalanya terasa perih. “dengar anak kecil, jika kau kalah, maka bersiaplah berada ditempat yang lebih menjijikkan daripada disini.” tanpa menunggu respon Lin, Madam shen segera berlalu pergi.

 

Ya… aku harus menang bukan? tak peduli tubuhku akan berakhir mati rasa. Itu lebih baik daripada menjadi pelacur.

 

Dari tempatnya, Lin dapat melihat kesisi lain arena. Disana, pria itu berdiri. Dan dia merutuki nasib buruknya malam ini. Li Huan. Pria itu berdiri disisi lain arena. Tubuhnya tegap dan besar dengan tinggi hampir 190cm dan tubuh kekar serta keras. Sedangkan dirinya? Dia seperti marmut disamping Li Huan. Tingginya bahkan hanya 162cm—sangat mungil dibandingkan pria itu.

 

Lin bahkan dapat melihat nafsu membunuh pria itu. mungkin pria itu ingin balas dendam karena dipertemuan terakhir mereka sebulan lalu, Lin nyaris mematahkan lehernya dan keluar sebagai pemenang dengan cidera yang tak kalah hebat seperti Li Huan—Kakinya retak saat mencoba mengalahkan pria itu.

 

Nasibnya sangat buruk. Benar-benar buruk. Kenapa tidak orang lain saja yang bermain? Kenapa harus Li Huan—pria yang benar-benar bernafsu untuk mengalahkannya. Mungkin jika pemain lain, kemungkinan menangnya akan semakin besar. huhhhh…. tapi, mungkin saja malam ini malam terakhirnya. Tak ada yang tahu, apakah Li Huan akan membunuhnya atau tidak malam ini. itu terasa lebih baik sebenarnya daripada berada dirumah bordil.

 

“Good night ladies and gantlement! Malam ini…. oh astaga, si cantik Lin yang akan bermain? Oh sayang, kau harus menang. Aku tidak dapat membayangkan tubuh sexy-mu yang luka-luka. Hey, kenapa kau tidak bermain dengan tubuh naked saja?”

 

Lin menggeram pelan dan menatap dingin pembawa acara sialan itu dari balik topengnya. selain permainan ini yang memuakkan, pembawa acaranya pun lebih buruk.

 

“Tapi kau memang sexy meski dengan tubuh luka-luka mu.” Bisikan itu mampir pada telinga kanannya. Lin menoleh dan menatap bengis pria yang tadi memberinya topeng itu. pria itu sudah berdiri disebelahnya dengan cengiran menjijikkan. Disini, pria semuanya menjijikkan. Dia benci berada disini. tapi dia tak akan mungkin bebas dari sini. Ayolah, dia sudah mencoba 3 kali untuk kabur dan tak ada yang berhasil. Nasib sial memang.

 

Lin hanya diam dan mulai menatap arena dengan pandangan menerawang. Apa yang akan terjadi nanti? Dia…. takut.

 

“Disebelah kanan, tentu saja ada si cantik Lin sang penakluk. Dan disisi kiri ada Li Huan. Wow cantik, kau harus menang! Tendang saja ‘punyanya’.” Oh si pembawa acara yang suka memprovokasi.

 

Dengan perasaan tak menentu Lin berjalan berlahan memasuki arena. Sorak-sorak memenuhi ruangan itu. sedangkan kepalanya terasa mulai berdenyut menyakitkan. Tubuhnya sendiri sudah terasa sangat panas. Kenapa dia harus sakit disaat genting seperti ini?

 

Lin berhenti berjalan. Dia memandang lurus ke arah Li Huan. Pria itu beridiri cukup dekat denganya. Mungkin 4 meter-an. Dan sialnya, ruangan itu mulai terasa berputar bagi Lin. Kepalanya semakin berdenyut sakit. tidak. tidak. dia harus menang.

 

Li Huan bukanlah pria jahat sebenarnya. Dia sama dengannya. Sama-sama terpaksa menjalani dunia seperti ini. atau mungkin sedikit berbeda karena Li Huan yang mulai terbiasa dan cukup menikmati dunia gelap ini serta penyiksaan yang megekor disetiap tindakan.

 

Pria itu masuk dalam kubangan dunia gelap ini saat usinya masih anak-anak. Dia anak terbuang, dan dipungut menjadi budak oleh tuannya. Mengalami penyiksaan dan kerja keras untuk memenuhi permintaan sang tuan. Barulah diusia remaja pria itu masuk kedalam arena seperti ini. sama seperti Lin, pria itu tak pernah ingin kalah, tapi entah kenapa beberapa kali pria itu kalah dengan Lin. Mungkin memang Lin lebih ahli daripada pria itu. Lin selalu berusaha menang, saat kalah maka bersiaplah menerima sebuah penyiksaan yang menyakitkan dari tuannya—madam Shen.

 

Lin menatap jauh kebelakang Li Huan. Disana Tuan Fong—pemilik Li Huan, menatapnya bengis dan merendahkan. Lalu Lin beralih menatap cermat pada Li Huan. Pria itu tampak berbeda. Tampak jauh lebih kuat dari sebelumnya. Apa pria itu mendapatkan penyiksaan yang menyakitkan dari tuannya?

 

Mungkin dia benar-benar akan mati diarena malam ini.

 

..

 

..

 

Bugh.

 

Pukulan itu berhasil membuat darah segar keluar dari mulut Li Huan. Lin dengan cepat segera memutar tubuhnya, melayangkan sebelah kakinya hingga mengenai sisi wajah Li Huan dengan keras.

 

Tapi sialannya. Dengan cepat pria itu bangkit dan kembali menerjang tubuh Lin yang nyaris mati rasa. Bukan apa-apa, Li Huan berhasil mematahkan sebelah tangannya. Tangannya terasa nyeri dan perlahan mati rasa karena sakit yang keterlaluan. Kepalanya semakin berdenyut. Bahkan dia tak dapat melihat dengan jelas lagi—nyaris pingsan mungkin. Hanya siluet Li Huan yang menjadi petunjuk baginya.

 

Bugh. Bugh.

 

2 pukulan bertubi menubruk ulu hatinya. Sakit tak terkira. Itulah yang dirasakannya.

 

Ayolah, jangan berharap permainan ini berhenti. Tak ada peraturan. Permainan bebas. Bahkan terkadang ada yang terbunuh diarena tak menjadi masalah. Permainan hanya akan berhenti jika salah satu pemain sekarat dan pemain yang menang benar-benar ingin berhenti. Keterlaluan memang. Tak berperikemanusiaan. Lagipula mereka memang hanya seonggok daging yang disebut ‘BUDAK’.

 

Tapi bagaimana lagi, ini permainan ilegal yang paling gelap. Permainan yang justru sangat diminati oleh orang-orang yang bergelutut didunia hitam. Dan polisi tiada guna itu tak dapat melacak sama sekali tentang ini. sialan.

 

Judi pertarungan. Pemain akan menjadi bahan taruhan yang menonton. Dan sang pemilik akan mendapatkan bagian kemenangan yang banyak dan mendapatkan cemooh-an jika kalah. Sangat sederhana tapi keparat.

 

Dengan kesadarannya yang mulai menurun, Lin dapat mendengar suara sorak-sorak yang mencemoohnya ataupun memaksanya untuk terus melawan. Tentu, orang-orang yang memaksanya untuk bangkit itu adalah orang-orang yang tidak ingin kalah dalam berjudi karena telah memasang taruhan padanya. Sekilas Lin dapat mendengar suara sang pembawa acara yang menyuruhnya menandang ‘itu’ Li Huan. Jadi Haruskah?

 

Lin mendongak menatap Li Huan yang menyeringai beberapa meter didepannya. Li Huan hanya mendapatkan luka-luka tak berarti. Sedangkan dia, tangannya patah. Brengsek!

 

Dia tak ingin kalah, tidak sama sekali.

 

Dengan sigap Lin bangkit dan berjalan perlahan menuju kearah Li Huan. Semakin lama semakin berjalan cepat dan akhirnya dia berlari dengan sangat cepat. Menerjang Li Huan dan kembali berusaha melayangkan beberapa pukulan yang memang tak akan bisa membuat Li Huan tumbang.

 

“Ini aneh. Pukulanmu terasa sangat lemah.” Ujar pria itu sambil menyeka darah disudut bibirnya.

 

Tanpa membalas ucapan pria itu dan saat melihat sebuah kesempatan, Lin menyongsong Li Huan dengan sangat cepat dan TEG! Berhasil menendang apa yang sangat dibanggakan oleh pria.

 

“BRENGSEK!” pria itu jatuh berlutut. Dan samar dengan kesadaran yang semakin tak tertahankan, Lin mendengar sebagian penonton tertawa. “Gadis sialan, kau sudah berani bermain menjijikkan.” Ungkap pria itu dengan menahan nyeri.

 

Lin benar-benar akan tumbang sekarang. tapi sebelum itu, dia kembali menendang tubuh Li Huan bertubi-tubi—hanya kaki yang saat ini bisa diandalkannya.

 

Dengan geram, setelah sadar dari rasa kaget karena mendapat pukulan tiba-tiba, Li Huan bangkit dan langsung melayangkan pukulan bertubi-tubi pada Lin. Gadis itu tersungkur jatuh, kesadarannya akan benar-benar hilang sekarang.

 

Dia merasa tak bisa melihat lagi apa yang terjadi. Tapi dia dapat merasakan seseorang yang menarik kerah bajunya dan membuatnya bangkit. Orang itu menyokong tubuhnya agar terus berdiri. Lin dapat merasakan hembusan hangat nafas orang yang berada didepannya. Li Huan kah? Dan dengan tiba-tiba dia dapat merasakan lumatan di bibirnya. siapa? Siapa yang melakukan ini padanya. Dan suara sorakan terdengar dipenjuru ruangan.

 

Dan sebelum kesadarannya benar-benar hilang, Lin dapat merasakan bisikan halus ditelinganya.

 

“Bagaimana bisa kau bermain dengan tubuh yang sekarat karena sakit? apa madam menyiksamu? Aku dengar kau berusaha kabur lagi. maafkan aku, aku tak bisa mengalah. Tubuhmu panas, Lin. Maaf, salah satu dari kita harus menang bukan.”

 

Dan sebuah pukulan telak menerjangnya dengan keras. Membuatnya tersungkur cukup jauh dari tempatnya berdiri.

 

Kesadarannya hilang sudah. Dan dia…. kalah!

 

..

 

..

 

Ctar!

Sebuah rasa sakit akibat cambukan membuat gadis itu bangun seketika. Matanya langsung terbuka. Tak ada ringisan sakit. hanya sebuah cambukan tak berarti apa-apa baginya. Dia sudah terbiasa. Tapi tetap saja terasa amat sakit. namun dia sudah terbiasa hingga hanya mampu mengeluarkan wajah tanpa ekspresi.

 

Dan dibangunkan seperti ini memang sudah biasa. Sebab itulah dia lebih sering untuk bangun dengan sendirinya sebelum dibangunkan.

 

Lin—gadis itu bangun dengan susah payah. Kepalanya masih berdenyut sakit dan tubuhnya penuh dengan memar dan luka sobekan. Lin dapat merasakan tangannya yang di gips dan oh tunggu… sebuah infus menancap di tangan satunya. Sejak kapan, ada yang peduli untuk mengobatinya?

 

Lin menatap sekilas tempat yang ditempatinya. Ini juga bukan ruang isolasi yang selalu menjadi tempatnya mendekam. Ini sebuah kamar. luas dan cukup mewah. Dan yang pasti bukan ruang bawah tanah yang juga sering menjadi tempat tinggalnya. Dimana dia?

 

Ctar!

 

Lin terhenyak dan seketika menoleh kearah asal kesakitan itu. Madam Shen berdiri disana—tepat di ambang pintu dengan cambuk ditangannya. Dan seketika kejadian tadi malam teringat olehnya. Dia kalah. Dan kali ini hidupnya benar-benar hancur. Bisakah dia mati saja?

 

“Gadis tak tahu diri. Kau kalah!” bentak madam Shen dan kembali mengayunkan cambuknya. Cambuk itu seperti pasangan tubuhnya saja. Dan semua penyiksaan yang dia dapat selalu dapat membuatnya semakin takut dan takut. Semakin tak bisa lepas dari doktrin-doktrin madam Shen. Meski terkadang dia selalu berusaha membersihkan pikirannya agar tak termakan doktrin-doktrin itu yang bisa membuatnya seperti anjing yang mau di suruh apapun.

 

“Madam kumohon maafkan aku. aku janji tidak akan kalah lagi. tolong… kumohon jangan jual aku ke rumah bordil.”

 

Lin segera mencabut infus itu dan bergerak turun untuk berlutut di hadapan madam Shen yang masih menatapnya marah.

 

“Kau ingin bebas?” Lin mendongak dengan kaget. Apa dia masih punya harapan untuk bebas? Dan tanpa berpikir gadis itu mengangguk. Ctar! Satu cambukan lagi menghiasi tubuhnya. tapi Lin bahkan seperti mati rasa, apalagi setelah mendengar kata bebas. “Gadis tak tahu diuntung. Baik, aku tak akan menjualmu ke rumah bordil. Dan aku juga akan membebaskanmu.”

 

Lin menatap tak percaya tapi penuh harap. Ini seperti keajaiban di tengah gurun pasir. Bagaimana bisa, bagaimana bisa madam Shen mau membebaskannya? Apa yang telah terjadi?

 

“Tapi ada satu syarat. Tidak susah.” Madam Shen berjongkok untuk mensejajarkan wajahnya dengan Lin. “Kau hanya harus membawakanku seorang pria. Apapun, kau boleh melakukan apapun untuk membawanya, tapi jangan sesekali melukainya. Mengerti?”

 

“P-Pria, madam?” tanya Lin tak yakin.

 

“Ya sayang. Seorang pria. Kau cantik dan menggoda apalagi jika tubuhmu tak ada luka-luka ini. lakukan apapun untuk membuatnya luluh dan percaya padamu agar kau bisa membawanya kemari. Karena kau tidak mungkin bisa membawanya kesini dengan cara kekerasan. Dia terlalu ahli untuk kau lawan. Dia bahkan lebih kuat dari Li Huan. Kau tak akan percaya kemampuan bela dirinya. Jika tidak begitu, sudah dari dulu aku bisa membawanya kesini. Lagipula aku tak suka luka menghiasi tubuhnya.” Madam Shen menyeringai mengerikan.

 

“Melakukan apapun?” cicit Lin.

 

“Lakukan apapun, bahkan membuatnya jatuh cinta padamu. Tapi jangan pernah kau jatuh cinta padanya! Kau hanya harus membuatnya mengikuti segala kemauanmu bahkan untuk datang kemari—Ke Shanghai.” Tangan madam Shen terangkat dan mengelus permukaan wajah Lin yang masih terdapat luka-luka yang jelas.

 

“Dia tidak tinggal di Shanghai?”

 

“Tentu tidak. dia yang akan menggantikanmu disini. dia masuk kesini dan kau bebas. Itu peraturannya.”

 

Lin menatap ragu madam Shen. Dia bebas, tapi dia memasukkan orang lain untuk menggantikannya. Apakah tidak keterlaluan. Tapi dia ingin bebas. Siksaan ini menyakitkan. Tak apa Lin. Tak apa. pikirkan saja dirimu sendiri.

 

“Ya. aku mau madam.”

 

“bagus gadis manis. Aku akan mengirim-mu setelah kau cukup sehat dan cantik tanpa luka-luka ini. dan ingat, jangan coba-coba kabur, Akan ada seseorang yang mengawasimu 24 jam. Jika kau berani kabur atau gagal, siap-siap saja akan resiko terburuk. Mengerti?”

 

Dan Lin hanya mengangguk kaku. Tatapan Madan Shen menakutkan baginya. Madam Shen berdiri dan memanggil salah satu anak buahnya yang memang berdiri didepan pintu sejak tadi. Mengambil sebuah amplop coklat besar dari anak buahnya dan melemparkan amplop besar itu pada Lin.

 

“Itu, bukti bahwa aku benar-benar akan membebaskanmu saat ini berakhir. Itu semua asli. Dan disana juga ada biodata pria yang harus kau bawa kemari.”

 

Lin menatap amplop itu sejenak dan segera mendongak untuk mengucapkan terima kasih pada madam Shen. Tapi wanita itu sudah menghilang.

 

Lin membuka perlahan amplop itu dengan tangannya yang bergetar. Dia membaca semua kertas-kertas miliknya. “Namaku… Ahn Heeyoung? warga negara Korea selatan.” Ucapnya pelan. jadi dia akan menjadi orang korea? Namanya Heeyoung? Ahn Heeyoung. kau tak akan tahu betapa gembiranya dia. Oh sungguh menyenangkan membayangkan dirinya akan bebas.

 

“dan… Cho Kyuhyun.” Lin membaca nama yang tertera di kertas lainnya. Sejenak dia memandangi foto dalam kertas itu. “Dia tampan.” Ucapnya lirih.

 

..

 

..

 

Seoul, South Korea 6.00 a.m

 

Kyuhyun menyingkap selimutnya kasar hingga akhirnya jatuh dengan tak elit keatas lantai. Pria itu tak menggunakan apa-apa kecuali boxer ketat yang membungkusi dari pinggul dan sepertiga pahanya.

 

Matanya bahkan masih setengah terpejam. Dia masih sangat ingin tidur, sungguh. Tapi ada satu hal—rutinitasnya akhir-akhir ini—yang tak bisa dia lewatkan setiap pagi. Dengan memikirkannya saja sudah mampu membuat matanya terbuka dengan cerah. Dan oh ayolah, susuatu dibawah sana yang sangat jarang sekali terbangun menggeliat, membuat Kyuhyun mengumpat kasar karena kegiatan alami yang tak bermoral itu.

 

Pria itu melesat cepat menuju ke kaca jendelanya yang terlapis gorden biru tua pudar dan menatap nyalang kearah depan. Bahkan tak peduli dengan keadaannya yang masih terlapisi dengan 1 helai kain.

 

Ini lebih penting!

 

Dia harus melihatnya atau dia akan mati tak semangat hari ini.

 

Kyuhyun meraba meja kerja yang memang terletak disebelah jendela. meraba kasar hingga tangannya berhasil meraih apa yang diinginkannya. Matanya sama sekali tak berpaling, masih menatap lurus kedepan.

 

Kyuhyun tersenyum cerah saat menatap teropong yang kini berada ditangannya. Mendekatkannya pada kedua mata dan kembali menatap kedepan. Ke arah sebuah jendela tepatnya—jendela rumah yang berada tepat didepan rumahnya.

 

Kamar Kyuhyun berada dilantai dua dan tepat menghadap ke jalan raya. Berhadapan sangat pas dengan jendela kamar yang juga berada dilantai dua rumah diseberangnya. Rumah didepannya itu awalnya kosong setahun ini, disewakan oleh seorang pengusaha—pemilik rumah itu—yang sedang mengalami kebangkrutan. tapi sebulan lalu rumah itu ada yang menyewa. dan sejak itulah kebiasan ini Kyuhyun lakukan. Haruskah dia secara gamblang menyebutkan kebiasaannya 1 bulan ini?

 

MENGINTIP! Puas? Itu kebiasaannya sebulan ini.

 

Ayolah, dia pria normal. Meski dia hampir tak pernah merasa bergairah pada wanita-wanita yang mendekatinya. Apalagi wanita-wanita ‘nyaris’ telanjang yang sering bergelayut ditubuhnya saat sedang berada diclub. dia hanya mempermainkan wanita-wanita itu yang entah kenapa justru membuatnya jijik. Oh para jalang!

 

Kenapa wanita-wanita itu suka sekali mengumbar dan mengobral miliknya?

 

Jangan menatapnya seperti itu. dia memang tampan, mempesona, tubuh proposional, menggairahkan bagi para kaum wanita, dan pengusaha muda. Tapi jangan berpikir dia seorang yang menganut paham ‘Free Sex’ NO!

 

Dia memang suka main ke club-club itu. mempermainkan wanita, memaksa mereka memuaskannya, dia memang terkadang bergairah tapi entah kenapa dia tak pernah sampai pada tahap ‘INGIN MELAKUKAN SEX’. Entah apa yang salah pada hormon miliknya. Dia tak paham. Tapi begitu juga, dia tak suka dengan sesama jenis! What the Hell…..

 

Dia normal tapi dia tak paham sendiri dengan hormon yang dimilikinya. Dia merasa tidak wajar dengan dirinya sendiri. tentu…

 

Sebelum gadis itu datang.

 

Ya. gadis itu. siapa namanya? Entahlah dia tak tahu. Berapa umurnya? Itu apalagi! Dia sudah punya kekasih? Dia tak peduli! Karena jika dia punya kekasih, dia bersumpah akan merebut gadis itu!

 

Gadis itu kini tepat berada diseberang. Berdiri ditengah kamarnya yang memang menghadap rumah besar keluarga Cho.

 

Kyuhyun bersumpah dia akan mencari teropong yang lebih canggih dan bisa melihat lebih dekat hingga seperti berdiri didepan gadis manis itu. ya. itu yang kini Kyuhyun lakukan. Melihat kegiatan gadis itu dari teropong miliknya. Sialan sekali bagian bawah tubuhnya yang mulai bergairah bahkan hanya dengan melihat wajah gadis itu. okey, berpikir jernih Cho.

 

Apa yang salah sebenarnya pada dirinya? Dia tak pernah sebergairah ini pada wanita tapi… astaga, bahkan gadis itu tak menyentuhnya saja sudah membuatnya ditembak dengan ribuan peluru gairah. Dia merasa gila.

 

Dia ingin memiliki gadis itu, mendekati gadis itu, tapi ya tuhan… kesempatan! Dia butuh kesempatan untuk dapat mendekati gadis itu! berkenalan baik-baik, beberapa hari atau shit minggu mengacak berkencan dan beberapa minggu atau brengseknya bulan mengajak bercinta dengan panas. Oh dia ingin itu sungguh. Tapi dia merasa jika dia bertemu dengan gadis itu secara langsung kejadiannya tak akan seperti itu. dibayangannya yang lain, saat dia berhadapan dengan gadis itu, bukannya mengajak berkenalan dan saling berjabat tangan tapi yang ada justru berjabat alat kelamin mereka dan melakukan percintaan panas begitu saja karena dia tak tahan untuk tak menyerang gadis itu!

 

Cho Kyuhyun sialan, sejak kapan pikiranmu menjadi mesum?! Kenapa gadis itu bisa membuatnya menjadi semengerikan ini?

 

Kyuhyun mencengkram erat—sangat erat—teropongnya. Mulutnya mengangga dan hidungnya nyaris mimisan. Sialan kenapa gadis itu harus membuka kaos putih kebesaran yang digunakannya didepan jendela yang terbuka! Bagaimana jika ada yang lihat?! Oh tentu saja hanya seorang Cho Kyuhyun yang bisa melihat karena kelakuan gilanya yang mengintip dengan alat bantu teropong.

 

Pria itu meringis mengasihani adiknya yang menegang sempurna kini. Ini bukan pertama kalinya melihat sebagian tubuh wanita yang terbuka. Dia bahkan sering melihat wanita telanjang bulat. Tapi tak ada yang pernah semenggairahkan ini!

 

Dia rasa dia harus memeriksakan diri ke Dokter. Lalu apa yang akan dia bilang pada dokter?

 

Oh jangan bertambah gila Cho Kyuhyun!

 

Kyuhyun semakin menegang dan mencengkram erat teropongnya. Bahkan tanpa sadar menempelkan tubuhnya kejendela berusaha melihat lebih jelas saat tangan gadis itu berpegang pada ujung hot pants-nya—hendak membuka celana. Shit! Lindungilah adiknya.

 

Celana itu perlahan turun hingga memperlihatkan setengah bongkahan pantat sang gadis. Kyuhyun merasa semakin panas dan menegang. Terus menanti kejadian selanjutnya. Hingga akhirnya celana itu jatuh kelantai memperlihatkan celana dalam berwarna hitam. Oh jangan lupakan branya yang juga berwarna hitam pekat.

 

Dia terus melihat, menanti dan berharap gadis itu membuka seluruh kain yang melekat. Biarkan dia menjadi pria cabul sesekali. Biarkanlah. Dia ingin sekali melihat. Menanti dan menanti hingga….

 

TAK!

 

Kyuhyun tersentak kaget dan segera mengalihkan pandangannya. Sesuatu barusan membentur jendela kamarnya dengan keras. Batu?

 

Dan Kyuhyun segera membuka jendela kamarnya dan menatap kearah bawah. Disana, tepat dihalaman rumah yang menghadap kamarnya—Cho Ahra berdiri, Nuna-nya.

 

“Apa yang kau lakukan dengan teropong dan liur menetes itu Cho Kyuhyun?! mengintip gadis seberang rumah lagi eoh?!”

 

Sialan, dia kepergok lagi oleh Nuna-nya! Ini sudah yang ke-4 kali dalam sebulan ini Ahra melihatnya mengintip. Aish, kenapa Nuna-nya harus berada diluar sepagi ini?

 

Tanpa memperdulikan Nuna-nya, Kyuhyun berbalik. Dengan tidak rela meninggalkan pemandangan pagi sumber semangatnya. Pria itu masuk kekamar mandi dan dengan cepat mengisi Bathup dengan air dingin. Ya, dia perlu air dingin untuk membuat adiknya lemas.

 

Tapi dia tersenyum. Untuk kesekian kalinya dia dapat melihat gadis manis itu.

 

..

 

..

 

“Eomma! Kyuhyun tadi pagi mengintip gadis yang baru pindah diseberang.”

 

Uhuk!

 

Kyuhyun nyaris tersedak saat mendengar suara cempreng Nuna-nya. Dia sebenarnya tak peduli pada Nuna-nya yang mengadu, tapi tetap saja membuatnya berhasil tersedak. Ini juga bukan pertama kalinya Ahra mengadu perihal dia yang suka mengintip tetangga seberang. Ayolah, Ahra itu seperti ember bocor. Apapun diucapkannya. Kadang tak peduli dengan situasi.

 

Kyuhyun hanya bisa memutar matanya jengah dan kembali menyuapkan sarapannya kedalam mulut.

 

“oh Jinjja? Eomma ingin tahu bagaimana rupa gadis itu. sudah sebulan dia tinggal di seberang tapi tidak juga beramah tamah dengan tetangga ya.”

 

“Mungkin gadis itu sibuk.” Timpal ayahnya yang sedang membaca koran.

 

Kyuhyun juga sebenarnya penasaran. Dia tak pernah melihat gadis itu selain dipagi hari saat mengintip. dia memang pria yang sibuk dan agak gila kerja hingga selalu pulang malam karena sering lembur. Mungkin itulah sebabnya dia tak pernah melihat gadis itu selain saat kegiatan paginya. Tapi mendengar keluarganya yang lain bahkan tak pernah melihat gadis itu membuat Kyuhyun penasaran. Apa gadis itu tipe yang suka menyendiri di rumah?

 

Entahlah. Paling tidak hari ini energinya sudah terisi untuk menjalani keseharian. Entah kenapa dia jadi kecanduan gadis itu. hanya melihat dari kejauhan dan tak pernah saling bertatapan langsung. Gila bukan? hanya seperti itu dan dia kecanduan dengan gadis brengsek yang membuatnya tegang setiap pagi itu.

 

“Tapi Kyuhyun-a, jangan mengintip lagi. itu tak baik!” Kyuhyun meringis menatap sang Eomma yang mulai menasehatinya lagi. Pria itu hanya mengangguk pelan pertanda paham. Padahal otaknya bebal karena perkataan itu hanya akan masuk telinga kanan dan keluar dari telinga kiri. Dia tahu mengintip itu tidak baik, tapi dia tak tahan jika tak melihat gadis itu dalam sehari.

 

“Pria cabul tak akan berhenti berbuat hal-hal yang cabul Eomma.” Ahra berbicara tanpa pikir panjang, membuat Kyuhyun melotot seketika. Ingatkan dia untuk menghajar Nuna-nya nanti.

 

“Ahra, jaga bicaramu di meja makan.” Balas Appa yang sejak tadi hanya membaca koran.

 

“Sudah-sudah kalian harus cepat sarapan. Dan Kyuhyun, kau bilang kemarin harus rapat pagi-pagi hari ini.”

 

Dan dengan seketika ruang makan hening. Hanya suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring.

 

..

 

..

 

Jleb!

 

Nafas Lin yang kini bernama korea Heeyoung seketika memburu. Baru saja sebuah pisau buah meluncur kearahnya. Sedetik jika dia lalai dan tidak memindahkan tubuhnya, percayalah jika pisau itu sudah menancap di pipi sebelah kirinya.

 

Gadis itu melotot dan berbalik menatap dimana pisau itu berada. pisau itu menancap dengan dalam disalah satu lukisan tua besar yang tergantung di dinding. Seketika wajah kolonel yang entah siapa itu dengan pakaian loreng-lorengnya tertancap pisau tepat di dahi—lukisan malang. Lebih malang lagi jika dia yang kena.

 

Heeyoung menatap kedepan dan mendapati pria itu disana. Kim Kibum. Pria keturunan korea asli yang memang ditugaskan untuk mengawasinya. Pria itu hampir sama sepertinya. sama-sama jarang berekspresi dan dingin. Yang lebih penting sama-sama jarang bicara hingga suasana disekitar mereka selalu terasa aneh dan mencekam.

 

“Kau!…” pria itu mengangkat tangannya dan menunjuk Heeyoung. mungkin inilah interaksi pertama mereka. mereka memang tinggal bersama tapi tak pernah saling membuka mulut satu sama lain. “waktunya hanya tinggal 2 bulan. Kau menyia-nyiakan 1 bulanmu hanya untuk berdiam didalam rumah.”

 

Ya. Heeyoung mengerti itu. dia bukannya sengaja menyia-nyiakan waktu 1 bulannya. Dia sedang berusaha. Mungkin keberuntungan memang sedang berpihak padanya untuk pertama kalinya selama dia menjadi budak. Waktu beberapa hari tinggal disini, dia tahu ada seseorang yang selalu mengintipnya. Dan betapa senangnya dia ternyata pria itu yang sedang mengintipnya setiap pagi. Pria targetnya.

 

Dia memang sengaja tidak berusaha mendekati pria itu dulu. Dewi fortuna sedang sayang padanya. Pria itu terlihat tertarik padanya. Bukankah jika kita membuat seorang pria penasaran pria itu akan lebih berusaha mendekat? Mungkin saja, dia juga tak pernah mengalami yang namanya jatuh cinta.

 

Setiap hari dia selalu sengaja berdiri ditengah kamarnya dengan jendela yang memang sangat jarang ia tutupi dengan gorden—Paling-paling hanya gorden putih yang transparan. Menggoda pria itu, berusaha membuat pria itu semakin penasaran dengan sosoknya.

 

Memang Heeyoung tak pernah bisa melihat wajah pria itu karena jarak mereka yang cukup jauh. Tapi dia yakin itu targetnya. Memang siapa lagi pria muda yang tinggal dirumah seberang?

 

“Aku akan mendekatinya. Jangan khawatir.” Jawab gadis itu datar.

 

“Bagus. dan ingat jangan pernah jatuh cinta atau misimu gagal” suara itu seperti bisikan, mencekam dan membuat bulu-bulunya berdiri. Entahlah, Aura Kibum terkadang membuatnya takut. Apalagi dengan tatapan intens pria itu.

 

..

 

..

 

Tok! Tok!

 

“Masuk.”

 

Kyuhyun mengalihkan pandangannya dari laptopnya saat mendapati sekertarisnya masuk kedalam ruangan. wanita itu menggunakan rok hitam ketat yang hanya menutupi sepertiga bagian pahanya, serta blus putih yang sedikit transparan dengan blezer hitam yang melapisi. Jalannya pun terlihat sekali sengaja untuk menggoda Kyuhyun.

 

Pria itu hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Dia tergoda? Sebenarnya tidak. tapi melihat sekertarisnya yang selalu berusaha menggodanya membuatnya gemas untuk mempermainkan gadis itu dan membuatnya jerah. Tapi tidak. gadis itu sekertarisnya yang berkompeten. Dia butuh orang yang cekatan dan pintar mengatur jadwalnya yang gila-gilaan seperti gadis itu. serta membantu pekerjaannya yang nyaris mencekik.

 

“Ini harus segera ditanda tangani, tuan Cho.”

 

“Baiklah letakkan di meja, aku akan memeriksanya sebentar lagi. kau boleh keluar.” Kyuhyun kembali mengalihkan matanya pada laptop yang masih setia menyala. Dia butuh mengerjakan pekerjaannya yang menumpuk dengan cepat.

 

“Tuan, apa anda akan ikut serta dalam wawancara lusa seperti tahun kemarin?”

 

Kyuhyun kembali mendongak dan menatap sekertarisnya yang bertanya dengan sebelah alis yang terangkat.

 

“Kenapa? Apa aku ada jadwal penting?”

 

“Tidak. hanya jamuan makan siang dengan Tuan Clark.”

 

“Oke. Sampaikan permintaan maafku padanya karena tidak bisa hadir. Atau kau bisa menyuruh Lee Hyuk Jae untuk mewakiliku. Kau juga bisa ikut bersamanya.” Lee Hyuk Jae itu asisten pribadinya. Ya tidak hanya pekerjaan. Mungkin segeala aspek kehidupannya.

 

“Baik Tuan. Saya permisi.” Sekertarisnya segera berbalik dan berjalan keluar ruangan. Kyuhyun mendongak dan kembali menatap sekertarinya.

 

“Miss Kim, jika kau ingin menggodaku kau harusnya berada disini dengan tubuh naked.” Ujar Kyuhyun santai dan kembali memfokuskan pikiran pada pekerjaannya. Tanpa perlu melihat Kyuhyun tahu jika sekertarisnya itu sedang merona.

 

Oh ya, silahkan kalian merasakan degupan kencang girl…..

 

..

 

..

 

Biodata
Nama China : Liao Chia-Lin
Nama Korea : Ahn Heeyoung
Tanggal Lahir : 16 februari 1995
Sifat : Tertutup, dingin, sensitive
Tinggi :162cm
Berat Badan : 45
Golongan darah : A
Seorang gadis yang memiliki darah campuran China-Korea. Ibunya meninggal saat melahirkannya dan ayahnya menikah saat umurnya 7 tahun. Saat umurnya menginjak 13 tahun ayahnya meninggal dan tersisa ibu tiri yang akhirnya menikah lagi dengan seorang pria yang ternyata memiliki banyak hutang dan seorang buronan diusianya yang ke 15. Saat usianya 15 itulah akhirnya dia di jual oleh orang tua tirinya dan menjadi salah satu dari 3 orang budak Madam Shen.

 

..

 

..

 

TBC

 

Gimana? Menarikkah untuk part 1?
Ada yang penasaran dengan lanjutannya? Ayo kasih pendapatnya ya…..
bagian perbudakan dan acara taruhan di arena itu aku ngawur ya, entah ada atau tidak di jaman modern begini, aku juga tak tahu.
Yang mau ngasih kritik dan saran silahkan ayo 😀

 

 

Iklan

13 thoughts on “Be My Baby Part 1

  1. Halo thor.. aku reader baru di wp kamu setelah tau dari flyingnc… aku langsung tertarik baca ini dan aku sekaligus minta izin baca ff mu yang lain ya.. makasih☺

    Suka

  2. annyeong eonnie^^ aku reader baru, aku nyari wp mu setelah baca ff di flying.. Karena aku merasa tertarik sama ff yg eonnie buat ^^

    Penasarannnnnm ama kelanjutannya, si kyu mesum bgt ampe ngintip gitu xD.
    Aku juga penasaran knpa madam Shen pengen bgt si Kyu yg gantiin si Lin. Dia tau tntng kyu darimana?
    ff mu selalu membuatku penasaran menunggu klanjutannya^^

    Disukai oleh 1 orang

  3. Haiiiiii author bellshan..
    Slm knl..

    Aq.Reader br di wp mu.. tp udh sering baca n coment ff mu di fnc..

    Aq slh satu pembaca yg suka karya2mu dn mnunggu lanjutannya…
    Hihihihi..

    Suka

  4. dan ini kerennn…
    ak jatuh cinta dg cerita ini, apa cz ak jg keturunan cinaa..
    li han suka kah dg lin??
    dr mn lin pnya ilmu bela diri??
    knaapaa madan shen ini cho kyuhyun??
    bukannya dia itu hanyalah pengusaha muda, bukan budak smacam lin ato pn li han…
    gag kebayang kelg konyolnya kelg kyu…
    kiraen kyu tggal sndiriii…
    penasaran klanjutnnyaaaa…

    salam kenal ya..
    Lin Zhu Qi, Natuna…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s